
Beberapa detik setelah Maya menatap Arga, suasana lobi hotel terasa semakin berat. Maya tetap berdiri di tempatnya sambil menggenggam erat gagang alat pel. Wajahnya terlihat tenang, tetapi matanya menyimpan ketakutan yang sulit disembunyikan. Arga tidak bergerak sedikit pun. Tatapannya terus tertuju pada wajah Maya, seolah sedang mencoba menyatukan semua potongan masa lalu yang selama ini hilang. Delapan tahun lalu, Maya menghilang tanpa penjelasan setelah hubungan mereka berakhir secara tiba-tiba. Arga sudah mencarinya ke berbagai tempat, tetapi tidak pernah menemukan jejaknya. Kini, perempuan yang selama ini ia cari berdiri tepat di depannya, mengenakan seragam petugas kebersihan dan sedang mengandung. Yang paling membuat Arga terguncang bukan hanya kemunculan Maya, melainkan perasaan bahwa kehamilan itu mungkin berkaitan dengannya.
Tiara memperhatikan keduanya dengan semakin curiga. Ia mengenal Arga sebagai pria yang hampir selalu mampu mengendalikan emosinya. Namun kali ini, wajah Arga terlihat berbeda. Tangannya mengepal, napasnya berat, dan matanya tidak pernah lepas dari Maya. Tiara perlahan melangkah mendekat, berusaha memahami hubungan yang sebenarnya terjadi. Ia kemudian memandang Maya dari ujung kepala hingga kaki. Seragam sederhana itu sangat kontras dengan penampilan elegannya sendiri. Tetapi ada sesuatu pada cara Maya menatap Arga yang membuat Tiara merasa bahwa perempuan itu bukan sekadar orang asing. Maya akhirnya menundukkan kepala dan mencoba pergi meninggalkan mereka. Namun sebelum ia sempat melangkah jauh, Arga bergerak mengikutinya. Ia ingin mendapatkan jawaban yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia miliki.
Maya memasuki lorong kecil menuju area khusus staf hotel. Langkahnya sedikit tergesa-gesa karena ia ingin menjauh dari Arga sebelum rahasia yang selama ini ia lindungi terbongkar. Namun pikirannya kembali pada masa lalu. Ia masih mengingat malam ketika dirinya meninggalkan Arga tanpa mengucapkan selamat tinggal. Saat itu, Maya percaya bahwa menghilang adalah satu-satunya cara untuk melindungi orang yang dicintainya. Ia membawa sebuah rahasia besar dan memilih menanggung semuanya sendirian. Selama bertahun-tahun, ia hidup sederhana, bekerja dari satu tempat ke tempat lain, dan tidak pernah menghubungi Arga. Kini, setelah sekian lama, takdir mempertemukan mereka kembali tepat ketika ia sedang berada di titik paling rapuh dalam hidupnya. Maya menyentuh perutnya perlahan, seakan berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia harus tetap kuat.
Di sisi lain, Arga masih berdiri di lobi bersama Tiara. Tiara akhirnya menatapnya dengan wajah serius. Ia ingin mengetahui siapa sebenarnya Maya dan mengapa Arga terlihat begitu terpukul. Arga tidak langsung menjawab. Matanya tetap mengarah ke lorong tempat Maya menghilang. Dalam pikirannya, satu pertanyaan terus berputar. Jika anak itu bukan miliknya, mengapa Maya terlihat begitu takut ketika ia menanyakan ayah anak tersebut? Dan jika anak itu memang miliknya, mengapa Maya memilih menyembunyikannya selama bertahun-tahun? Arga kemudian teringat sebuah kenangan lama tentang Maya. Sebelum mereka berpisah, Maya pernah mengatakan bahwa suatu hari mereka mungkin akan bertemu kembali ketika semuanya sudah terlambat. Saat itu Arga menganggapnya sebagai ucapan emosional. Sekarang, kalimat itu terasa seperti sebuah peringatan.
Maya akhirnya berhenti di ruang staf yang kosong. Ia menutup pintu perlahan dan bersandar di belakangnya. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia menolak menangis. Ia tahu Arga tidak akan berhenti mencari jawaban. Ia juga tahu bahwa semakin lama ia menyembunyikan kebenaran, semakin besar kemungkinan semuanya terbongkar. Dari dalam tas kecilnya, Maya mengambil sebuah benda lama yang sudah bertahun-tahun ia simpan. Benda itu adalah satu-satunya pengingat dari masa lalu yang tidak pernah sanggup ia buang. Ia menggenggamnya erat sambil menatap pantulan dirinya di kaca. Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari luar ruangan. Maya langsung menyembunyikan benda tersebut dan menarik napas panjang. Ia menyadari bahwa Arga mungkin sudah menemukannya. Namun sebelum pintu terbuka, Maya melihat sebuah pesan masuk di ponselnya dari seseorang yang selama ini ia takut akan kembali.
Arga akhirnya berdiri tepat di depan pintu ruang staf. Tiara berada beberapa langkah di belakangnya. Arga mengangkat tangannya untuk mengetuk, tetapi berhenti ketika mendengar suara Maya dari dalam. Maya sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon dengan suara sangat pelan. Arga tidak dapat mendengar seluruh percakapannya, tetapi satu kalimat terdengar cukup jelas dan membuat wajahnya berubah. Maya berkata bahwa ia tidak ingin masa lalu mereka kembali menghancurkan kehidupan siapa pun. Arga menatap Tiara, lalu kembali melihat pintu. Ia mulai menyadari bahwa hilangnya Maya dahulu mungkin bukan karena ia berhenti mencintainya. Mungkin ada seseorang yang memaksanya pergi. Dan jika dugaan itu benar, maka kehamilan Maya bukanlah satu-satunya rahasia yang disembunyikan selama bertahun-tahun.
Pintu akhirnya terbuka perlahan. Maya berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat, sementara Arga dan Tiara menatapnya. Tidak ada seorang pun yang langsung berbicara. Maya memandang Arga cukup lama, lalu matanya turun sebentar ke tangannya sendiri. Arga menyadari bahwa Maya sedang menyembunyikan sesuatu. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, tetapi Maya mundur dengan refleks. Tiara melihat gerakan itu dan semakin yakin bahwa hubungan mereka jauh lebih dalam daripada yang selama ini ia bayangkan. Tiba-tiba ponsel Maya kembali bergetar. Kali ini, layar ponsel memperlihatkan foto lama yang baru saja dikirim oleh seseorang. Maya melihat foto tersebut dan wajahnya langsung berubah. Arga mencoba melihatnya, tetapi Maya segera mematikan layar. Mereka bertiga terdiam. Rahasia dari masa lalu itu ternyata belum selesai. Dan seseorang yang selama ini bersembunyi kini mulai bergerak untuk membuka semuanya.






