
Di tengah pemakaman yang mendadak terasa membeku, Lucas menatap ibunya tanpa mampu memahami perubahan di wajah Claire. Beberapa detik sebelumnya, perempuan itu masih tampak seperti seorang ibu yang hancur karena kehilangan suaminya. Namun sekarang, di balik air mata yang masih menempel di pipinya, ada ketegangan yang tidak dapat disembunyikan. Lucas perlahan melepaskan lengannya dari genggaman Claire. Tatapannya berpindah dari wajah ibunya menuju peti mati, lalu kembali lagi. Suara benturan dari dalam masih terngiang di kepalanya. Itu bukan suara kayu tertiup angin. Bukan pula suara benda yang jatuh. Ada sesuatu di dalam sana, dan Lucas mulai menyadari bahwa apa pun yang terjadi, pemakaman ini tidak seperti yang selama ini dipercayainya.
Claire tetap berdiri di hadapannya, seolah tubuhnya menjadi penghalang antara Lucas dan peti mati. Tangannya perlahan turun, tetapi jemarinya masih kaku. Lucas memperhatikan gerakan kecil itu dengan saksama. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ibunya bukan hanya takut kehilangan kendali atas suasana pemakaman, tetapi takut terhadap sesuatu yang jauh lebih besar. Di belakang mereka, Étienne berdiri tanpa bergerak sambil memegang foto Jean. Wajahnya tetap datar, tetapi Lucas sempat menangkap perubahan samar pada sorot matanya ketika suara benturan terdengar tadi. Ingatan tentang hari-hari terakhir ayahnya kembali berputar di kepala Lucas. Jean tidak pernah terlihat sakit. Tidak ada peringatan bahwa hidupnya akan berakhir mendadak. Namun semua orang menerima kematiannya begitu saja.
Di dalam peti yang gelap, Jean masih berjuang. Napasnya terasa berat dan tubuhnya semakin lemah akibat posisi yang sempit. Ia mendengar suara anaknya dari balik kayu, mengenali suara Lucas yang selama bertahun-tahun menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Ia mencoba bergerak lagi, berusaha menghasilkan suara sekecil apa pun agar Lucas mengetahui bahwa ia masih hidup. Setiap gerakan menghasilkan bunyi samar yang tertahan oleh lapisan peti dan lingkungan pemakaman. Ia tidak tahu berapa lama ia mampu bertahan dalam keadaan itu. Yang ia tahu hanyalah bahwa Lucas berada begitu dekat, hanya dipisahkan oleh beberapa sentimeter kayu. Harapan muncul sekaligus berubah menjadi ketakutan ketika ia mendengar suara Claire yang melarang Lucas menyentuh peti tersebut.
Lucas kembali mendekati peti mati, tetapi kali ini ia tidak langsung memukulnya. Ia menempelkan telapak tangannya pada permukaan kayu yang dingin dan memejamkan mata. Dalam keheningan itu, ia menunggu suara lain. Tidak ada seorang pun yang bergerak. Para pelayat berdiri seperti patung, sementara angin lembut menggoyangkan dedaunan tua di atas mereka. Beberapa detik kemudian terdengar bunyi samar dari dalam. Lucas membuka mata. Wajahnya berubah dari kesedihan menjadi keyakinan yang perlahan menguat. Ia kini tidak lagi sekadar berharap bahwa ayahnya masih hidup. Ia mulai mempercayainya. Dan keyakinan itu membuat ketakutan terhadap ibunya semakin besar. Claire melihat ekspresi Lucas dan menyadari bahwa sesuatu telah berubah. Tatapan anaknya tidak lagi memohon jawaban. Tatapan itu mulai menuntut kebenaran.
Tanpa mengatakan apa pun, Lucas mengamati seluruh area di sekitarnya. Ia melihat para pekerja pemakaman, bunga putih, makam keluarga, dan Étienne yang masih memegang foto Jean. Semuanya tampak normal, tetapi justru ketenangan itu terasa semakin mencurigakan. Ia mencoba mengingat setiap detail sejak ayahnya dinyatakan meninggal. Siapa yang pertama kali menemukan Jean? Siapa yang memastikan kematiannya? Mengapa semuanya berlangsung begitu cepat? Mengapa tidak ada kesempatan baginya untuk melihat ayahnya dengan jelas sebelum pemakaman? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul satu demi satu dan membuat dadanya semakin sesak. Selama ini ia mengira dirinya hanya sedang berduka. Sekarang ia mulai merasa bahwa mungkin dirinya sengaja dibuat percaya pada sesuatu yang tidak benar. Di sampingnya, Claire tetap diam, dan keheningan perempuan itu justru terasa seperti jawaban yang belum lengkap.
Sementara itu, Jean mendengar suara langkah Lucas yang semakin dekat dengan peti. Ia mencoba mengerahkan seluruh tenaganya untuk bergerak sekali lagi. Benturan kecil terdengar dari dalam, cukup jelas untuk mencapai Lucas, tetapi tidak cukup keras untuk membuat orang lain bertindak. Jean kemudian berhenti karena kelelahan. Di luar, Lucas menatap Claire untuk terakhir kalinya sebelum kembali menatap peti mati. Ia melihat ketakutan yang berusaha disembunyikan ibunya dan mulai memahami bahwa ada sesuatu yang sengaja ditutupi. Namun ia belum mengetahui siapa yang berada di baliknya, bagaimana semuanya terjadi, atau mengapa ayahnya bisa berada dalam keadaan seperti itu. Tidak ada jawaban yang bisa diperoleh saat itu. Hanya ada peti tertutup, suara dari dalam, dan seorang ibu yang terlalu takut membiarkan anaknya mendekat.
Langit kelabu tetap menggantung di atas pemakaman Neuilly-sur-Seine ketika Lucas berdiri dalam keheningan, wajahnya masih basah oleh air mata. Namun kesedihan yang sebelumnya memenuhi dirinya perlahan berubah menjadi tekad untuk mengetahui kebenaran. Claire berdiri beberapa langkah di depannya dengan wajah tegang, sementara Étienne tetap membeku di tempatnya, memegang foto Jean seperti seseorang yang sedang menjaga rahasia yang belum boleh terbuka. Tidak seorang pun bergerak untuk membuka peti. Tidak seorang pun berani menjelaskan suara yang baru saja terdengar. Di balik kayu gelap itu, Jean masih menunggu, sadar bahwa satu-satunya kesempatan untuk diselamatkan berada di luar sana. Lucas akhirnya menatap ibunya lagi, dan untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Claire hanya sebagai ibunya. Ia melihat seorang perempuan yang mungkin mengetahui jauh lebih banyak daripada yang pernah dikatakannya.





